PENTINGNYA PERAN DAN FUNGSI MAHASISWA
Mahasiswa berasal dari dua kata yaitu Maha yang artinya besar ;amat;
yang teramat dan Siswa adalah murid; anak didik. Mahasiswa merupakan
tingkatan yang paling tinggi dari siswa. Pengertian lain dari mahasiswa
adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di
sebuah universitas atau perguruan tinggi. Di universitas atau perguruan
tinggi inilah seorang mahasiswa belajar mengasah otak, berpikir,
memecahkan masalah tanpa masalah, belajar menjadi orang mandiri, sabar,
tawakkal, ikhlas, dan melatih keterampilan yang dia miliki tanpa merasa
jenuh dan bosan guna menjadi insan sejati.
Mahasiswa dapat dikatakan sebuah komunitas unik yang berada di
masyarakat, dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya, mahasiswa
mampu berada sedikit di atas masyarakat. Mahasiswa juga belum tercekcoki
oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, ormas, parpol, dsb.
Sehingga mahasiswa dapat dikatakan (seharusnya) memiliki idealisme.
Idealisme adalah suatu kebenaran yang diyakini murni dari pribadi
seseorang dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dapat
menggeser makna kebenaran tersebut.
Mahasiswa dengan segala kelebihan dan potensinya tentu saja tidak
bisa disamakan dengan rakyat dalam hal perjuangan dan kontribusi
terhadap bangsa. Mahasiswa pun masih tergolong kaum idealis, dimana
keyakinan dan pemikiran mereka belum dipengarohi oleh parpol, ormas, dan
lain sebagainya. Sehingga mahasiswa menurut saya tepat bila dikatakan
memiliki posisi diantara masyarakat dan pemerintah.
Sepanjang sejarah, mahasiswa di berbagai bagian dunia telah
mengambil peran penting dalam sejarah suatu negara. Misalnya, di
Indonesia pada Mei 1998, ribuan mahasiswa berhasil memaksa Presiden
Soeharto untuk mundur dari jabatannya.
Dilihat dari berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh
mahasiswa, tidak sepantasnyalah bila mahasiswa hanya mementingkan
kebutuhan dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi terhadap bangsa
dan negaranya. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya
belajar, bukan pula rakyat, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki
tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti
memisahkan diri dari masyarakat. Oleh karena itu perlu dirumuskan
perihal peran dan fungsi mahasiswa untuk menentukan arah perjuangan dan
kontribusi mahasiswa tersebut.
Secara pengertian luas, mahasiswa memiliki beberapa peranan penting
dalam kehidupan. Peranan pertama, mahasiswa sebagai orang yang intelek,
jenius, dan jeli harus bisa menjalankan hidupnya secara proporsional,
sebagai seorang mahasiswa, anak, serta harapan masyarakat. Kedua,
mahasiswa sebagai seorang yang hidup di kampus yang dikenal bebas
berekspresi, beraksi, berdiskusi, berspekulasi dan berorasi, harus bisa
menunjukkan tingkah laku yang bermoral dalam setiap tindak tanduknya
tanpa terkontaminasi dan terpengaruh oleh kondisi dan lingkungan. Sebab
dia sendiri dengan kemampuannya sudah bisa mengukur antara baik-buruknya
tindakan, selain selalu dipantau dan dicontoh oleh masyarakat. Ketiga,
mahasiswa sebagai seorang yang membawa perubahan harus selalu
bersinergi, berpikir kritis dan bertindak konkret yang terbingkai dengan
kerelaan dan keikhlasan untuk menjadi pelopor, penyampai aspirasi dan
pelayan masyarakat. Selain yang telah disebut diatas, berikut juga
merupakan peran mahasiswa di masyarakat.
- Mahasiswa Sebagai “Iron Stock”
Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan
menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia
yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya
mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan.
Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat
mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua
ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan
terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum
kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang
memiliki kesempatan.
Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah
perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme, hingga
reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa.
Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran
Iron Stock tersebut ? Jawabannya tak lain adalah dengan memperkaya diri
kita dengan berbagai pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun
kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang
pernah terjadi di generasi-generasi sebelumnya.
Lalu kenapa harus Iron Stock ?? Bukan Golden Stock saja, kan lebih
bagus dan mahal ?? Mungkin didasarkan atas sifat besi itu sendiri yang
akan berkarat dalam jangka waktu lama, sehingga diperlukanlah
penggantian dengan besi-besi baru yang lebih bagus dan kokoh. Hal itu
sesuai dengan kodrat manusia yang memiliki keterbatasan waktu, tenaga,
dan pikiran.
- Mahasiswa Sebagai “Guardian of Value”
Mahasiswa sebagai Guardian of Value berarti mahasiswa berperan
sebagai penjaga nilai-nilai di masyarakat. Lalu sekarang pertanyaannya
adalah, “Nilai seperti apa yang harus dijaga ??” Untuk menjawab
pertanyaan tersebut kita harus melihat mahasiswa sebagai insan akademis
yang selalu berpikir ilmiah dalam mencari kebenaran. Kita harus
memulainya dari hal tersebut karena bila kita renungkan kembali sifat
nilai yang harus dijaga tersebut haruslah mutlak kebenarannya sehingga
mahasiswa diwajibkan menjaganya.
Sedikit sudah jelas, bahwa nilai yang harus dijaga adalah sesuatu
yang bersifat benar mutlak, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya.
Nilai itu jelaslah bukan hasil dari pragmatisme, nilai itu haruslah
bersumber dari suatu dzat yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.
Selain nilai yang di atas, masih ada satu nilai lagi yang memenuhi
kriteria sebagai nilai yang wajib dijaga oleh mahasiswa, nilai tersebut
adalah nilai-nilai dari kebenaran ilmiah. Walaupun memang kebenaran
ilmiah tersebut merupakan representasi dari kebesaran dan keeksisan
Allah, sebagai dzat yang Maha Mengetahui. Kita sebagai mahasiswa harus
mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang
bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita
terapkan dan jaga di masyarakat.
Pemikiran Guardian of Value yang berkembang selama ini hanyalah
sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada sebelumya, atau menjaga
nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, kesigapan, dan lain sebagainya.
Hal itu tidaklah salah, namun apakah sesederhana itu nilai yang harus
mahasiswa jaga ? Lantas apa hubungannya nilai-nilai tersebut dengan
watak ilmu yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa ? Oleh karena itu
saya berpendapat bahwa Guardian of Value adalah penyampai, dan penjaga
nilai-nilai kebenaran mutlak dimana nilai-nilai tersebut diperoleh
berdasarkan watak ilmu yang dimiliki mahasiswa itu sendiri. Watak ilmu
sendiri adalah selalu mencari kebanaran ilmiah.
Penjelasan Guardian of Value hanya sebagai penjaga nilai-nilai yang
sudah ada juga memiliki kelemahan yaitu bilamana terjadi sebuah
pergeseran nilai, dan nilai yang telah bergeser tersebut sudah terlanjur
menjadi sebuah perimeter kebaikan di masyarakat, maka kita akan
kesulitan dalam memandang arti kebenaran nilai itu sendiri.
- Mahasiswa Sebagai “Agent of Change”
Mahasiswa sebagai Agent of Change artinya adalah mahasiswa sebagai
agen dari suatu perubahan. Lalu kini masalah kembali muncul, “Kenapa
harus ada perubahan ???”. Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita
pandang kondisi bangsa saat ini. Menurut saya kondisi bangsa saat ini
jauh sekali dari kondisi ideal, dimana banyak sekali penyakit-penyakit
masyarakat yang menghinggapi hati bangsa ini, mulai dari pejabat-pejabat
atas hingga bawah, dan tentunya tertular pula kepada banyak rakyatnya.
Sudah seharusnyalah kita melakukan terhadap hal ini. Lalu alasan
selanjutnya mengapa kita harus melakukan perubahan adalah karena
perubahan itu sendiri merupakan harga mutlak dan pasti akan terjadi
walaupun kita diam. Bila kita diam secara tidak sadar kita telah
berkontribusi dalam melakukan perubahan, namun tentunya perubahan yang
terjadi akan berbeda dengan ideologi yang kita anut dan kita anggap
benar.
Mahasiswa adalah golongan yang harus menjadi garda terdepan dalam
melakukan perubahan dikarenakan mahasiswa merupakan kaum yang
“eksklusif”, hanya 5% dari pemuda yang bisa menyandang status mahasiswa,
dan dari jumlah itu bisa dihitung pula berapa persen lagi yang mau
mengkaji tentang peran-peran mahasiswa di bangsa dan negaranya ini.
Mahasiswa-mahasiswa yang telah sadar tersebut sudah seharusnya tidak
lepas tangan begitu saja. Mereka tidak boleh membiarkan bangsa ini
melakukan perubahan ke arah yang salah. Merekalah yang seharusnya
melakukan perubahan-perubahan tersebut.
Perubahan itu sendiri sebenarnya dapat dilihat dari dua pandangan.
Pandangan pertama menyatakan bahwa tatanan kehidupan bermasyarakat
sangat dipengaruhi oleh hal-hal bersifat materialistik seperti
teknologi, misalnya kincir angin akan menciptakan masyarakat feodal,
mesin industri akan menciptakan mayarakat kapitalis, internet akan
menciptakan menciptakan masyarakat yang informatif, dan lain sebagainya.
Pandangan selanjutnya menyatakan bahwa ideologi atau nilai sebagai
faktor yang mempengaruhi perubahan. Sebagai mahasiswa nampaknya kita
harus bisa mengakomodasi kedua pandangan tersebut demi terjadinya
perubahan yang diharapkan. Itu semua karena kita berpotensi lebih untuk
mewujudkan hal-hal tersebut.
Sudah jelas kenapa perubahan itu perlu dilakukan dan kenapa pula
mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam perubahan tersebut, lantas
dalam melakukan perubahan tersebut haruslah dibuat metode yang tidak
tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu diri sendiri,
lalu menyebar terus hingga akhirnya sampai ke ruang lingkup yang kita
harapkan, yaitu bangsa ini.
2. Fungsi Mahasiswa
Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M.Hatta yaitu
membentuk manusisa susila dan demokrat yang memiliki keinsafan tanggung
jawab atas kesejahteraan masyarakat, cakap dan mandiri dalam memelihara
dan memajukan ilmu pengetahuan, serta cakap memangku jabatan atau
pekerjaan di masyarakat
Berdasarkan pemikiran M.Hatta tersebut, dapat kita sederhanakan
bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis, yang
selanjutnya hal tersebut akan menjadi sebuah fungsi bagi mahasiswa itu
sendiri. Insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu : memiliki
sense of crisis, dan selalu mengembangkan dirinya.
Insan akademis harus memiliki sense of crisis yaitu peka dan kritis
terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini. Hal ini
akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu,
yaitu selalu mencari pembenaran-pembenaran ilmiah. Dengan mengikuti
watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai
masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi-solusi yang
tepat untuk menyelesaikannya. Insan akademis harus selalu mengembangkan
dirinya sehingga mereka bisa menjadi generasi yang tanggap dan mampu
menghadapi tantangan masa depan.
Dalam hal insan akademis sebagai orang yang selalu mengikuti watak
ilmu, ini juga berhubungan dengan peran mahasiswa sebagai penjaga nilai,
dimana mahasiswa harus mencari nilai-nilai kebenaran itu sendiri,
kemudian meneruskannya kepada masyarakat, dan yang terpenting adalah
menjaga nilai kebenaran tersebut.